Resesi Ekonomi, Perlukah Kamu Waspadai?

Apakah menurutmu akan terjadi resesi?
Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi belakangan ini sering disebut di berbagai media cetak atau online. Jika sebelumnya kamu abai, sekarang kamu perlu memperhatikan nih karena resesi juga memiliki pengaruh besar dalam kehidupan kita, terutama terkait masalah keuangan. 

Dilansir dari cnnindonesia.com, pemerintah semakin waspada terhadap perlambatan ekonomi global setelah ancaman resesi menghantui sejumlah negara. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, perlambatan ekonomi global bisa menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Meski begitu, masih dari cnnindonesia.com, Ekonom, Faisal Basri menyebut pemerintah tak perlu panik bahwa resesi akan mendekati Indonesia karena faktor eksternal bukan kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Lalu, perlukah kita waspada? Keadaan seperti apa yang disebut dengan resesi? Baca selanjutnya di sini.

Apa Itu Resesi Ekonomi?

Resesi Ekonomi

Dikutip dari cnbcindonesia.com, menurut National Bureau of Economic Research (NBER) resesi merupakan “periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebar di seluruh ekonomi dan berlangsung selama lebih dari beberapa bulan”.

[Baca: 5 Pertanyaan Seputar Investasi Emas yang Perlu Kamu Tahu]

Sementara menurut Faisal Basri dikutip dari cnnindonesia.com juga, resesi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah mencatat angka negatif selama dua triwulan berturut-turut. 

Dari dua pengertian di atas, bisa disimpulkan resesi merupakan kondisi perekonomian yang turun secara signifikan setidaknya selama enam bulan.

Wikipedia menyebut, resesi juga sering diasosiasikan dengan keadaan harga-harga barang yang turun. Sementara resesi ekonomi yang berlangsung lama akan menyebabkan depresi ekonomi. 

Nah, disebutkan di cnbcindonesia.com, penurunan perekonomian umumnya menyerang lima indikator ekonomi suatu negara, yakni PDB riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel. 

Masih dari sumber yang sama, resesi ekonomi sendiri bisa mulai dirasakan kedatangannya ketika terjadi pertumbuhan yang melambat, misalnya pada pekerjaan manufaktur. Saat terjadi penurunan permintaan dari konsumen, penjualan juga akan otomatis menurun.

Dengan penjualan yang terus menurun, sebuah usaha atau bisnis bisa berhenti berkembang dan tidak lagi merekrut pekerja baru. Pada keadaan seperti itu, resesi sedang berlangsung. 

Dampak Resesi

Resesi Ekonomi

Dengan kondisi perekonomian yang terus menurun, banyak lini kehidupan yang akan terpengaruh. 

Resesi bisa mengakibatkan penurunan pada aktivitas ekonomi masyarakat. Selain itu, resesi juga akan menyebabkan sulitnya tersedia lapangan kerja, investasi, serta mengurangi keuntungan perusahaan.

Kondisi perusahaan yang tidak bisa lagi merekrut pekerja akan meningkatkan jumlah pengangguran. Kemudian, daya beli masyarakat juga menurun dan pada akhirnya berbagai usaha bisa saja tutup atau bangkrut.

Tidak hanya daya beli yang menurun, masyarakat pun mungkin akan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Belum lagi, angka kriminalitas yang bisa melonjak karena sulitnya keadaan.

Investasi untuk Masa Resesi

Resesi Ekonomi

Menurut peneliti dari INDEF, Bhima Yudhistira, dikutip dari detik.com, untuk menghadapi resesi, orang-orang membutuhkan instrumen yang sifatnya mudah dicairkan. Sementara harga aset yang berisiko tinggi akan menurun dan investor beralih ke aset yang aman.

Bhima menyebutkan aset yang bisa dimanfaatkan, khususnya untuk orang superkaya, di antaranya deposito dan surat utang negara (SUN) bertenor jangka pendek. 

Selain kedua itu, Bhima juga menyarankan emas batangan. Harga emas sendiri juga cenderung mengalami kenaikan belakangan ini. Selain itu, seperti banyak diketahui emas memiliki likuiditas tinggi atau mudah dicairkan kapan pun.

Dua produk investasi di atas, yakni emas batangan dan SUN juga dianggap sebagai salah satu produk investasi safe haven. Dengan kata lain, produk investasi yang aman dengan tingkat risiko rendah meski dalam situasi perekonomian yang tidak menentu. 

[Baca: Apa Saja Jenis Investasi Safe Haven? Ini Jawabannya]

Perlukah Waspada?

Resesi Ekonomi

Apakah kita perlu waspada dengan keadaan ekonomi saat ini? Dilansir dari detik.com, banyak orang yakin resesi ekonomi akan terjadi. Orang-orang superkaya di seluruh dunia bahkan memprediksi resesi terjadi pada tahun 2020.

Dari cnbcindonesia.com, Faisal Basri yang mengutip The Washington Post, mengatakan setidaknya ada sembilan negara yang terancam resesi, seperti Jerman, Inggris, Italia, Meksiko, Brasil, Argentina, Singapura, Korea Selatan, dan Rusia.

Senada dengan pernyataan di atas, Pingkan Audrine Kosijungan, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), dikutip dari Kompas.com, mengatakan adanya kemungkinan terjadinya resesi global dalam waktu dekat. Setidaknya, menurut dia, tiga negara besar, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman sangat rentan terhadap kemungkinan resesi tersebut.

Jika benar terjadi, perlambatan ekonomi global hingga resesi yang terjadi pada negara-negara tersebut tentunya bisa menyeret Indonesia pula. Perlambatan ekonomi juga bisa terjadi di Indonesia dan memengaruhi aktivitas ekonomi lainnya. Namun, apakah Indonesia juga berada di posisi yang berbahaya?

Meski kemungkinan akan ikut terpengaruh, seperti yang sudah disebutkan, menurut Faisal Basri faktor eksternal bukanlah kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut dia, resesi dunia dan perang dagang memiliki dampak yang kecil untuk Indonesia.

Senada dengan Faisal, Chatib Basri, Menteri Keuangan Indonesia pada periode 2013-2014, juga dikutip dari cnbcindonesia.com, mengatakan Indonesia tidak akan mengalami resesi ekonomi dalam waktu dekat. Meski ada perlambatan, daya tahan perekonomian Indonesia masih cukup kuat.

Chatib Basri mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di 5%. Indonesia tidak resesi, tapi yang terjadi ialah perlambatan ekonomi. Menurutnya juga, perlambatan perekonomian suatu negara tidak bisa dijadikan sebagai patokan akan terjadinya resesi. Resesi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi minus lebih dari dua kuartal.

Apa yang Harus Dilakukan?

Resesi Ekonomi

Orang-orang kaya bisa menghadapi atau mengantisipasi terjadinya resesi dengan mengalihkan aset berisiko tinggi ke aset berisiko rendah. Mereka mungkin akan memindahkan aset pada produk investasi yang aman, seperti SUN atau emas batangan.

Namun, resesi tidak hanya dirasakan oleh orang dengan uang banyak, tapi juga kalangan masyarakat biasa. Jadi, tidak hanya orang kaya saja yang perlu melakukan antisipasi, tapi semua orang.

Nah, menurut Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, dikutip dari detik.com, yang harus dilakukan masyarakat kelompok biasa juga sama dengan apa yang harus dilakukan oleh orang kaya.

Jadi, siapa pun perlu mengamankan aset yang dimiliki. Hanya saja aset masyarakat biasa tidak banyak dari segi jumlah ataupun ragamnya sehingga tidak memerlukan pengamanan yang kompleks.

Menurut Piter, jika sampai terjadi resesi, masyarakat dari kelompok biasa harus bisa memanfaatkan dan menggunakan penghasilannya dengan baik. Intinya, jangan membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Resesi ekonomi bisa membuat nilai penghasilan yang didapatkan selama ini menjadi berkurang. Oleh sebab itu, mengatur prioritas belanja menjadi sangat penting. Selain itu, orang-orang tentunya perlu mengamankan likuiditas.

Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *